Hukum Qada' Puasa oleh Ahli Waris Bagi Orang yang Telah Meninggal Dunia (Analisis Pendapat Mazhab Malik dan Mazhab Syafi'i)

mohd noor, 131209704 (2017) Hukum Qada' Puasa oleh Ahli Waris Bagi Orang yang Telah Meninggal Dunia (Analisis Pendapat Mazhab Malik dan Mazhab Syafi'i). Skripsi thesis, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

[img]
Preview
Text (Membahas Tentang Hukum Qada' Puasa)
PDF DIGABUNG KESELURUHAN ISI.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (10MB) | Preview

Abstract

Puasa Ramadhan adalah puasa yang diwajibkan bagi semua orang Islam yang mukalaf. Bagi orang yang tidak mampu berpuasa, diperbolehkan berbuka puasa, dengan syarat mereka harus mengqadhanya pada hari-hari lain setelah bulan Ramadhan. Sedangkan orang yang meninggal dunia tetapi masih ada tanggungan puasa, padahal sudah ada kesempatan mengqadha puasanya, tetapi tidak dilaksanakannya, maka segolongan fuqaha berpendapat bahwa wali orang yang meninggal dunia tidak wajib mengqadha dan tidak wajib memberikan fidyah atas nama orang yang meninggal dunia tersebut kecuali ada wasiat untuk membayarnya dan ada fuqaha berpendapat walinya wajib menqadha puasa atau dengan membayar fidyah. Permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini adalah bagaimanakah hukum qa ḍ ā’ puasa oleh ahli waris bagi orang yang telah meninggal dunia menurut Maż ḥ ab Mālik dan Maż ḥ ab Syāfi’i, apakah dalil dan metode istinbat yang digunakan oleh Maż ḥ ab Mālik dan Maż ḥ ab Syāfi’i dalam hukum qa ḍ ā’ puasa oleh ahli waris bagi orang yang telah meninggal dunia dan bagaimana perbandingan pendapat Maż ḥ ab Mālik dan Maż ḥ ab Syāfi’i tentang hukum qa ḍ ā’ puasa oleh ahli waris bagi orang yang telah meninggal dunia. Adapun metode penelitian skripsi ini adalah studi kepustakaan (library research) dan menggunakan studi dokumentasi dari hasil penelitian bahwa Maż ḥ ab Mālik tidak wajib qa ḍ ā’ puasa untuk ahli waris yang telah meninggal dunia, Maż ḥ ab Syāfi’i mewajibkan qa ḍ ā’ puasa atau fidyah untuk ahli waris yang telah meninggal dunia. Metode istinbat yang dipahami dalam menetapkan hukum qa ḍ ā’ puasa bagi waris yang telah meninggal dunia Maż ḥ ab Mālik menggunakan metode qiyas yang berdasarkan hadist, sedangkan Maż ḥ ab Syāfi’i menggunakan metode yang berdasarkan teks nash Al-Quran dan Sunnah, dalam perbandingan pendapat Maż ḥ ab Mālik berpendapat walinya tidak wajib berpuasa untuk menanggung semua puasa yang ditinggalkan oleh si mayit, kecuali ketika si mayit semasa masih hidup berwasiat untuk mengganti puasanya, sedangkan Maż ḥ ab Syāfi’i berpendapat wajib qa ḍ ā’ puasa atau dengan membayar fidyah untuk ahli waris yang telah meninggal dunia menurut hadist Shahih dari Aisyah ra.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing : 1. Dr. Mursyid Djawas, S. Ag, M.HI.; 2. Badri, S.Hi, M.H.
Uncontrolled Keywords: Hukum, Qaḍā’, Waris, Puasa, Mażhab
Subjects: 200 Religion (Agama)
200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X4 Fiqih > 2X4.1 Ibadah
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Perbandingan Mazhab
Depositing User: muhammad faizal mohd noor
Date Deposited: 13 Nov 2017 04:12
Last Modified: 13 Nov 2017 04:12
URI: http://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/1580

Actions (login required)

View Item View Item