Pelaksanaan Khanduri Laot Ditinjau menurut Perspektif Islam di Gampong Keude Meukek Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan

Desi Ratnasari, 431307335 (2018) Pelaksanaan Khanduri Laot Ditinjau menurut Perspektif Islam di Gampong Keude Meukek Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan. Skripsi thesis, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

[img]
Preview
Text (Membahas tentang Adat Istiadat)
DESI RATNASARI.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Form B dan Form D.pdf

Download (612kB) | Preview

Abstract

Gampong Keude Meukek Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki keragamaan dari segi adat istiadat dan kebudayaan. Khanduri laot merupakan salah satu kebudayaan yang masih di lestarikan di masyarakat Meukek. Khanduri laot sendiri sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Meukek. Namun, tidak diketahui secara pasti awal mulanya khanduri laot ini pertama kali di laksanakan. Khanduri laot ini sudah menjadi suatu keharusan dalam masyarakat Meukek yang diadakan setahun sekali. Kebudayaan ini menarik untuk diteliti dengan mengajukan beberapa pertanyaan kunci seperti Bagaimana prosesi tradisi khanduri laot di Gampong keude Meukek dilaksanakan. Bagaimana pandangan masyarakat Gampong keude Meukek mengenai khanduri laot,dan Bagaimana pandangan islam terhadap khanduri laot di Gampong Keude Meukek. Untuk itu penulis tertarik melakukan penelitian “Pelaksanaan Khanduri Laot Ditinjau Menurut Perspektif Islam Di Gampong Keude Meukek Kecamatan Meukek Kabupaten Aceh Selatan”. Untuk mendapatkan hasil dari beberapa pertanyaan diatas, penulis menggunakan metode penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dimana teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan cara observasi,wawancara,dan data dokumentasi. Adapun hasil penelitian menunujukan bahwa proses khanduri laot di Gampong keude Meukek diadakan setiap setahun seklai dengan mengundang teungku imum untuk mendoakan agar para nelayan yang pergi kelaut diberi keselamatan dan juga rejeki yang melimpah. Setelah itu teungku imum memberi peusijuk untuk kapal-kapal nelayan dan juga hewan sembelihan. Masyarakt desa Keude Meukek menyakini bahwa khanduri laot merupakan ritual yang wajib dilakukan dengan berbagai upaya agar membawa keselamatan dan rejeki kepada mereka. Kemudian kerbau di arak sepanjang pantai sampai batas wilayah laut yang dibawahi oleh panglima laot penyelenggara upacara sepanjang pantai. Ketika sampai batas area wilayah laut yang menjadi kekuasaan panglima laot Gampong Keude Meukek maka kerbau di sembelih,lungkee (tanduk) dan ketoran lainnya diisi kembali kedalam kulit. Setelah dibungkus semua termasuk tulang-tulang,maka kulit tadi dijahit dengan awe (rotan). Bentuknya seolah-olah separti kerbau yang sedang tidur. Selanjutnya,hanya daging saja yang dimasak untuk diberikan kepada para undangan dan peserta upacara lain masakan daging dan masakan lainnya dimakan di pinggir laut secara bersama-sama dengan mebaca doa-doa,tahmid,tahlil dan takbir. Sedangkan dalam islam bahwa manusia tidak dibenarkan mempercayahi sesuatu hal terjadi bukan dikarenakan dengan kudrah dan iradah Allah SWT. Ketika masyarakat yang melaksanakan Khanduri laot berangkapan, apabila daging kerbau yang dibuang mengikuti perahu rombongan pulang menuju pantai dianggap sebagai pertanda tidak baik,namun apabila daging tersebut tidak mengikuti rombongan pulang berarti dianggap pertanda baik,maka pemikiran yang demikian akan membawa kepada kemusyrikan.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing : 1. Dr. M. Jakfar Abdullah, MA; 2. Sakdiah, S.Ag, M.Ag
Uncontrolled Keywords: Adat Istiadat, Masyarakat, Budaya
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X6 Sosial dan Budaya > 2X6.9 Adat Istiadat
Divisions: Fakultas Dakwah dan Komunikasi > S1 Manajemen Dakwah
Depositing User: Desi Ratnasari
Date Deposited: 08 May 2018 08:42
Last Modified: 08 May 2018 08:42
URI: http://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/3522

Actions (login required)

View Item View Item