Pembatalan Hak Waris Saudara Perempuan Kandung (Studi terhadap Putusan No.187/Pdt.G/2016/Ms-lsm menurut Perspektif Fiqh Mawaris)

Izza Faradhiba, 140101025 (2018) Pembatalan Hak Waris Saudara Perempuan Kandung (Studi terhadap Putusan No.187/Pdt.G/2016/Ms-lsm menurut Perspektif Fiqh Mawaris). Skripsi thesis, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

[img]
Preview
Text (Membahas tentang Warisan)
IZZA FARADHIBA NIM 140101025.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (712kB) | Preview
[img]
Preview
Text (Membahas tentang Warisan)
Form B dan Form D.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (5MB) | Preview

Abstract

Pada kajian fiqh mawaris anak perempuan tunggal yang mewarisi bersamaan dengan saudara perempuan kandung tergolong ke dalam bagianashabah ma’a alghairi sehingga mereka dapat mewarisi seluruh harta warisan.Namun didalam penelitian terhadap studi Putusan No. 187/Pdt. G/2016/Ms-Lsm ini dikatakan bahwasanya anak perempuan tunggal mewarisi seluruh harta warisan dan bahkan anak perempuan tunggal tersebut juga dapat menghijab saudara perempuan kandung. Hal ini berarti berlawanan dengan apa yang dinyatakan di dalam kajian fiqh mawarits, karena di dalam kajian Fiqh Mawarits anak perempuan tidak dapat menjadi hijab bagi kedua saudara. Maka yang menjadi permasalahannya adalah mengapa hakim memutuskan anak perempuan sebagai penghijab saudara perempuan kandung dan bagaimanakah tinjauan fiqh mawaris terhadap kedudukan anak perempuan tunggal sebagai penghijab saudara perempuan kandung dalam Putusan No.187/Pdt. G/2016/Ms-Lsm.Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan sebuah penelitian melalui pendekatan undang-undang dan jenis penelitian dalam penelitian ini menggunakan penelitian yuridis normatif karena mengkaji dan menelaah putusan Mahkamah Syar’iyah Lhokseumawe No. 187/Pdt.G/2016/Ms-Lsm. Hasil dari penelitian ini yaitu dalam pertimbangannya hakim mengatakan pada kitab tafsir Ibnu Katsir Juz 1 menjelaskan bahwa ulama sunni menyebutkan makna dari kata walad di dalam Q.s An-nisa ayat 11 dan 12 bermakna anak perempuan dan anak laki-laki sehingga anak perempuan memiliki hak yang sama dengan anak laki-laki akan tetapi seharusnya hakim juga mencamtumkan lagi tentang Q.s An-nisa ayat 176 yang menjelaskan tentang kalalah namun juga menjelaskan tentang anak perempuan yang dapat menjadi penghijab, di dalam pertimbangan nya yang kedua hakim menggunakan Yurispudensi Mahkamah Agung No. 86 K/AG/1994 dan No. 18K/AG/1995 tentang anak perempuan yang dapat menjadi penghijab bagi saudara di dalam putusan tersebut dinyatakan bahwa apabila masih ada ahli waris garis pertama maka yang lebih berhak mewarisi harta pewaris adalah ahli waris garis pertama yaitu ayah,ibu, anak, duda atau janda. Mengenai tinjauan fiqh mawaris putusan ini sudah sesuai dengan apa yang dikembangkan oleh pembaharuan-pembaharuan fiqh mawaris sekarang ini sehingga pertimbangan yang hakim gunakan di dalam putusan ini tidak bertentangan dengan hukum islam karena hakim juga menggunakan dalil ayat al-quran yang merupakan landasan utama dari semua peraturan hukum islam. Maka dari itu kesimpulan yang dapat diambil yaitu anak perempuan dapat menjadi ashabah sehingga dapat menjadi penghijab bagi saudara laki-laki maupun saudara perempuan, karena pengertian kata walad di dalam Q.s An-nisa ayat 11 dan 12 serta ayat 176 adalah anak laki-laki dan anak perempuan maka kedudukan nya setara dengan anak laki-laki termasuk dalam persoalan menghijab.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing : 1. Dr. EMK. Alidar, M.Hum 2. Syuhada, S.Ag, M.Ag
Uncontrolled Keywords: Hibah, Ashabah Ma'a Ghairi, Fiqh Mawaris
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X4 Fiqih > 2X4.4 Hukum Waris (Faraid) dan Wasiat > 2X4.43 Pembagian Harta Warisan
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Hukum Keluarga
Depositing User: Izza Faradhiba
Date Deposited: 05 Oct 2018 00:02
Last Modified: 05 Oct 2018 00:02
URI: http://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/5248

Actions (login required)

View Item View Item