Ikramullah, 180501033 (2025) Sejarah Perjuangan Rakyat Aceh dalam Melawan Belanda di Batee Iliek, Bireuen. Other thesis, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Ikramullah (180501033) Bab I.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.
Download (1MB)
Ikramullah (180501033) Full Bab.pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution.
Download (2MB) | Request a copy
Abstract
Penelitian ini mengkaji secara mendalam dinamika perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme Belanda di kawasan Batee Iliek, Samalanga, Kabupaten Bireuen, pada masa Perang Aceh (1873–1912). Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis peran strategis benteng Batee Iliek sebagai pusat konsolidasi militer dan ideologis masyarakat Aceh, serta menelusuri keterlibatan tokoh-tokoh lokal yang berperan penting dalam gerakan perlawanan, seperti Pocut Meuligoë dan Teungku Chik di Samalanga. Di sisi lain, sosok Van Heutsz dan Christiaan Snouck Hurgronje ditampilkan sebagai representasi kekuatan kolonial yang memainkan peran penting dalam menundukkan basis-basis perlawanan melalui strategi militer dan sosial-politik yang sistematis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan pendekatan mikrohistoris, mencakup tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Melalui pendekatan ini, penelitian berusaha merekonstruksi narasi sejarah lokal yang selama ini kurang mendapat tempat dalam historiografi nasional. Sumber data diperoleh dari dokumen kolonial seperti Helden Series Batee Iliek, laporan De Helsen – Atjeh 1896, serta buku-buku sejarah modern seperti Aceh Sepanjang Abad karya Muhammad Said. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Batee Iliek bukan hanya menjadi lokasi strategis dari sisi geografis—karena dikelilingi sungai, bukit, dan hutan lebat—tetapi juga menjadi pusat semangat jihad fi sabilillah yang digerakkan oleh para ulama dan pemimpin lokal. Perlawanan yang dilakukan secara terorganisir, baik melalui taktik gerilya maupun pertahanan benteng, menjadikan wilayah ini sebagai salah satu titik paling keras dalam peta perlawanan Aceh. Bahkan ekspedisi besar Belanda tahun 1901 yang dipimpin Van Heutsz menjadikan Batee Iliek sebagai target utama karena kekuatan militernya yang signifikan. Tokoh Pocut Meuligoë tampil sebagai figur sentral yang tidak hanya memimpin perlawanan bersenjata, tetapi juga menjadi simbol keteguhan perempuan Aceh dalam mempertahankan tanah air dari dominasi kolonial.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | 900 Geography and History > 904 Kumpulan Peristiwa |
| Divisions: | Fakultas Adab dan Humaniora > S1 Sejarah dan Kebudayaan Islam |
| Depositing User: | Ikramullah Ikramullah |
| Date Deposited: | 20 Jan 2026 04:15 |
| Last Modified: | 20 Jan 2026 09:07 |
| URI: | https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/52882 |
