Potensi Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica) Dan Bayam (Amaranthus Spp) Dalam Menghasilkan Energi Listrik Berbasis Mikroba-Tanaman (Plant Microbial Fuel Cell)

Adinda Fahira, 220204007 (2026) Potensi Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica) Dan Bayam (Amaranthus Spp) Dalam Menghasilkan Energi Listrik Berbasis Mikroba-Tanaman (Plant Microbial Fuel Cell). Circuit : Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Elektro, 10 (02). pp. 1-11. ISSN 2549-3701 (Submitted)

[thumbnail of membahas tentang energi listrik dari Plant Microbial Fuel Cell] Text (membahas tentang energi listrik dari Plant Microbial Fuel Cell)
Artikel Adinda Fahira_220204007-5-16_watermark.pdf - Submitted Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (788kB)

Abstract

Kebutuhan energi yang selama ini berasal dari bahan bakar fosil tidak tersedia dalam jangka waktu panjang sehingga penelitian mengenai energi alternatif terus dikembangkan. Sumber energi alternatif diharapkan memiliki sifat energi yang ramah lingkungan dan merupakan energi yang dapat diperbaharui melalui pemanfaatan lingkungan, namun kajian yang membandingkan pengaruh adaptabilitas morfologi akar dan jalur fotosintesis tanaman lokal pada sistem PMFC masih terbatas. Penelitian eksperimen kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan performa bioelektrisitas antara kangkung (Ipomoea aquatica) yang memiliki jalur fotosintesis C3 dengan sistem akar adventif, dan bayam (Amaranthus spp) dengan jalur fotosintesis C4 dan sistem akar tunggang. Pengukuran Open Circuit Voltage (OCV) dilakukan selama 30 hari menggunakan elektroda graphite felt dengan pengambilan data setiap pukul 11.00 -12:00 WIB guna mendapatkan hasil fotosintesis maksimal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan tegangan seiring pertumbuhan tanaman, dengan nilai maksimum pada hari ke-30 mencapai 208,8 mV untuk kangkung dan 158,9 mV untuk bayam. Rata-rata tegangan harian kangkung (135,14 ±58,75 mV) secara signifikan melampaui bayam (106,89 ±29,22 mV). Meskipun bayam memiliki efisiensi fiksasi karbon C4 yang lebih tinggi secara teoritis, struktur akar adventif kangkung terbukti lebih adaptif terhadap lingkungan basah, sehingga menyediakan luas rizosfer yang lebih efektif bagi aktivitas mikroba elektrogenik dibandingkan akar tunggang bayam yang sensitif terhadap lingkungan basah. Penelitian ini menekankan bahwa adaptabilitas morfologi perakaran terhadap kondisi air merupakan parameter yang lebih kritikal bagi performa PMFC, meskipun secara teoritis jalur fotosintesis berperan besar, namun dalam pengamatan ini ditemukan bahwa kendala pada adaptasi akar lebih membatasi produksi energi, dengan stabilitas produksi elektron yang sangat dipengaruhi oleh fluktuasi suhu dan intensitas cahaya matahari.

Item Type: Article
Subjects: 500 Sciences (Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika) > 530 Physics (Fisika)
Divisions: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan > S1 Pendidikan Fisika
Depositing User: Adinda Fahira
Date Deposited: 18 Jun 2026 04:18
Last Modified: 18 Jun 2026 04:18
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/57911

Actions (login required)

View Item
View Item