Pelaksanaan Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian Ditinjau menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan (Studi terhadap Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor Registrasi 2183/Pdt.G/2022/PA.STB)

Nazua Maghfira, 220106030 (2026) Pelaksanaan Pemenuhan Hak Anak Pasca Perceraian Ditinjau menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan (Studi terhadap Putusan Pengadilan Agama Stabat Nomor Registrasi 2183/Pdt.G/2022/PA.STB). Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

[thumbnail of membahas tentang ilmu hukum] Text (membahas tentang ilmu hukum)
NAZUA MAGHFIRA, 220106030 FSH, IH.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (5MB)

Abstract

Perceraian tidak menghapus kewajiban orang tua memenuhi hak-hak anak, baik hak pengasuhan, pendidikan, perlindungan, dan hak nafkah. Dalam praktiknya, pemenuhan hak anak pasca cerai sering mengalami kendala misalnya hambatan finansial, komunikasi dan lainnya, sehingga berpotensi pengabaian kepentingan terbaik anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemenuhan hak anak pasca cerai sesuai Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan pemenuhan hak anak dalam Putusan Nomor 2183/Pdt.G/2022/PA.Stb, serta mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi optimalisasi pemenuhan hak anak pasca cerai. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan undang-undang (statute approach) dan juga pendekatan kasus (case approach). Data diperoleh melalui wawancara, studi dokumentasi, observasi dan studi kepustakaan, yang dianalisis secara kualitatif. Temuan penelitian bahwa pelaksanaan pemenuhan hak anak pasca cerai diatur secara jelas dalam Pasal 14 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang mewajibkan orang tua untuk menjamin memenuhi hak anak meski hubungan perkawinan telah berakhir. Putusan Nomor 2183/Pdt.G/2022/PA.Stb mengenai cerai talak atau kasus suami menceraikan istri, hakim menetapkan kewajiban ayah memenuhi nafkah dan kebutuhan anak sebagai bentuk tanggung jawab pasca cerai. Tetapi, dalam pelaksanaannya masih ditemukan berbagai hambatan, seperti keterbatasan ekonomi, kesadaran hukum rendah, kurangnya komunikasi orang tua, serta lemahnya pengawasan atas pelaksanaan putusan pengadilan. Untuk itu, perlu peningkatan kesadaran hukum orang tua, penguatan mekanisme pengawasan, dan dukungan dari lembaga terkait agar pemenuhan hak anak dapat terlaksana secara optimal sesuai dengan prinsip perlindungan anak.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Keywords (Kata Kunci): Pemenuhan Hak Anak, Perceraian, Nafkah Anak
Subjects: 200 Religion (Agama) > 2X0 Islam > 2X4 Fiqih > 2X4.3 Hukum Perkawinan (Munakahat) > 2X4.36 Hak dan Kewajiban Suami Isteri, termasuk Nafakah
200 Religion (Agama) > 2X0 Islam > 2X4 Fiqih > 2X4.3 Hukum Perkawinan (Munakahat) > 2X4.37 Menyusui dan Mengasuh / Memelihara Anak
300 Sociology and Anthropology (Sosiologi dan Antropologi) > 340 Law/Ilmu Hukum > 344 Hukum Pemburuhan, Pelayanan Sosial, Pendidikan, Kebudayaan
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Ilmu Hukum
Depositing User: Nazua Magfira
Date Deposited: 16 Jul 2026 02:27
Last Modified: 16 Jul 2026 02:27
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/58515

Actions (login required)

View Item
View Item