Antropologi dan Sosiologi Hukum Keluarga di Beberapa Daerah di Indonesia

Muhammad Siddiq Armia, 2003037702 (2017) Antropologi dan Sosiologi Hukum Keluarga di Beberapa Daerah di Indonesia. Lembaga Kajian Konstitusi Indonesia (LKKI), Banda Aceh. ISBN 978-602-50172-1-6

[thumbnail of Buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu hukum, khusus para akademisi, praktisi, ataupun masyarakat umum dalam kajian antropologi dan sosiologi hukum keluarga.]
Preview
Text (Buku ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu hukum, khusus para akademisi, praktisi, ataupun masyarakat umum dalam kajian antropologi dan sosiologi hukum keluarga.)
11-WAJAH ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI HUKUM KELUARGA DI BEBERAPA DAERAH INDONESIA-editor buku.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (2MB) | Preview

Abstract

Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Berdasarkan sensus 2010 jumlah suku Gayo yang mendiami provinsi Aceh mencapai 336.856 jiwa. Wilayah tradisional suku Gayo meliputi kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Selain itu suku Gayo juga mendiami sebagian wilayah di Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur. Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya dan mereka menggunakan bahasa gayo dalam percakapan seharihari mereka. Masyarakat Gayo hidup dalam komuniti kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh
seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari reje (raja), petue (petua), imem (imam), dan rayat (rakyat). Pada masa sekarang beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat. Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok belah (klan). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) perkawinan yang menyebabkan kedua mempelai setelah melangsungkan upacara perkawinan kemudian bertempat tinggal sementara atau untuk selamanya pada keluarga pengantin pria atau
matrilokal (angkap), perkawinan yang menyebabkan kedua mempelai setelah melangsungkan upacara perkawinan kemudian bertempat tinggal sementara atau untuk selamanya
pada keluarga pengantin perempuan.

Item Type: Book
Uncontrolled Keywords: Suku Gayo, Sistem Perkawinan, Juelen, Angkap
Subjects: 300 Sociology and Anthropology (Sosiologi dan Antropologi) > 390 Customs, Etiquette, Folklore (Adat Istiadat, Etiket, Folklor)
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Ilmu Hukum
Depositing User: Muhammad Siddiq Armia
Date Deposited: 09 Dec 2019 03:01
Last Modified: 18 Dec 2019 09:53
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/10432

Actions (login required)

View Item
View Item