Penetapan Nafkah Iddah Bagi Isteri Nusyūz Analisis Putusan Mahkamah Syar’iyyah Bireuen Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir

Satriani, 111209219 (2019) Penetapan Nafkah Iddah Bagi Isteri Nusyūz Analisis Putusan Mahkamah Syar’iyyah Bireuen Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir. Skripsi thesis, UIN AR-RANIRY.

[img]
Preview
Text (Penetapan Nafkah Iddah Bagi Isteri Nusyūz Analisis Putusan Mahkamah Syar’iyyah Bireuen Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir)
Satriani, 111209219, FSH, HK, 082214357072.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (3MB) | Preview

Abstract

Ketetapan wajib memenuhi nafkah idah isteri diakui dalam dalil hukum Islam maupun peraturan peundang-undangan, dengan syarat bahwa isteri tidak berlaku nusyūz kepada suaminya. Namun demikian, kenyataannya diperoleh ketetapan hakim dalam putusan Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir yang menetapkan wajib nafkah bagi isteri dalam masa idah yang melakukan nusyūz. Masalah yang ingin diteliti adalah bagaimana dasar dan alasan hukum hakim Mahkamah Syar’iyyah Bireuen dalam menetapkan nafkah idah bagi isteri nusyūz dalam Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir, bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap penetapan nafkah idah bagi isteri nusyūz pada putusan Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan jenis studi pustaka. Data-data penelitian dianalisis dengan cara deskritif-analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dasar dan alasan hukum hakim Mahkamah Syar’iyyah Bireuen dalam menetapkan nafkah idah bagi isteri nusyūz dalam Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir mengacu pada tiga ketentuan. Pertama, hadis riwayat Nasa’i dari Fatimah binti Qais. Kedua, Pasal 118, Pasal 149, dan Pasal 152 Kompilasi Hukum Islam, serta pendapat ulama yang dituangkan dalam kitab al-Muhażżab. Ketiga dalil tersebut menurut Hakim Mahkamah Syar’iyyah Bireuen cukup menjadi dasar dan landasan menetapkan nafkah bagi isteri dalam masa idah tanpa melihat adanya nusyūz. Penetapan nafkah idah bagi isteri nusyūz pada putusan Nomor 0057/Pdt.G/2018/Ms-Bir cenderung kurang sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Sebab, hukum Islam hanya mengakui kewajiban nafkah idah bagi isteri yang tidak nusyūz. Namun, Hakim Mahkamah Syar’iyyah Bireuen justru tetap memutus perkara isteri nusyūz dengan membebankan kepada suami untuk memberikan nafkah idah sebesar 1.000.000. Sejauh pengamatan saya perlu diteliti kembali makna dan kriteria nusyūz yang digunakan dalam KHI

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing I : Dr. Khairani, M.Ag Pembimbing II : Ihdi Karim Makinara, SHI., SH., MH
Uncontrolled Keywords: Nafkah Idah, Nusyūz
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X4 Fiqih
300 Sociology and Anthropology (Sosiologi dan Antropologi) > 340 Law/Ilmu Hukum > 346 Hukum Perdata
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Hukum Keluarga
Depositing User: Satriani Satriani
Date Deposited: 21 Jan 2020 02:40
Last Modified: 21 Jan 2020 02:40
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/10777

Actions (login required)

View Item View Item
TOP