Adat Meubalah dalam Wālimah al-‘Urs Menurut Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus di Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya)

Afzhalul Zikri, 150101011 (2019) Adat Meubalah dalam Wālimah al-‘Urs Menurut Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus di Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya). Skripsi thesis, UIN AR-RANIRY.

[img]
Preview
Text (Adat Meubalah dalam Wālimah al-‘Urs Menurut Tinjauan Hukum Islam (Studi Kasus di Kecamatan Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya))
Afzhalul Zikri, 150101011, FSH, HK, 082277533715.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (4MB) | Preview

Abstract

Wālimah al-‘Urs merupakan sesuatu hal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Walīmah al-‘Urs bisa juga diadakan menurut adat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Namun, faktanya fenomena walīmah yang terjadi di kecamatan Manggeng kabupaten Aceh Barat Daya sebagian besar mengadakan walīmah itu justru memberatkan masyarakat. Ini disebabkan karena adanya adat berbalas-balasan dalam membawa bawaan/kado oleh tamu undangan kepada pihak tuan rumah yang mengadakan walīmah tersebut dan menjadi hutang yang harus dibayar oleh pihak tuan rumah. Adanya adat meubalah yang berlebihan ini mengakibatkan adanya dampak buruk bagi masyarakat. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana praktik adat meubalah di kecamatan Manggeng serta apa saja dampak yang ditimbul dalam masyarakat Manggeng yang disebabkan oleh adat meubalah. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu berupa data yang berasal dari wawancara kepada masyarakat di kecamatan Manggeng dan juga penelitian kepustakan dengan mencari buku yang berkenaan dengan pembahasan ini. Hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar masyarakat Manggeng merasa keberatan dengan adanya undangan dari pihak yang mengadakan walīmah al-‘urs. Hal ini disebabkan karena adanya bawaan/kado yang pernah dibawa oleh pihak yang mengadakan acara harus dibalas sesuai bahkan lebih dengan apa yang pernah dibawa sebelumnya. Dampak buruk dari adat ini adalah terputusnya tali silaturahim antara kedua belah pihak dan mendapat cercaan dari pihak yang mengadakan acara apabila salah dalam membalas bawaan artinya bawaan yang dibawa lebih kecil harganya dari bawaan yang dibawa sebelumnya. Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa adanya adat meubalah ini memberatkan masyarakat. Bagi masyarakat yang tergolong berpendapatan tinggi tidak bermasalahan. Namun, bagi kalangan yang berpendapatan rendah maka akan jadi persoalan besar yang harus dihadapi.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing: 1. Drs. Mohd. Kalam Daud, M.Ag 2. Badri, S.Hi, MH
Uncontrolled Keywords: Adat, Adat Meubalah, dan Wālimah
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X6 Sosial dan Budaya > 2X6.1 Masyarakat Islam
200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X6 Sosial dan Budaya > 2X6.1 Masyarakat Islam > 2X6.15 Kelompok Sosial
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Hukum Keluarga
Depositing User: Afzhalul Zikri
Date Deposited: 25 Jun 2020 03:35
Last Modified: 25 Jun 2020 03:35
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/12293

Actions (login required)

View Item View Item
TOP