Makna Al-Ḍalālah Dalam Al-Qur’an

Ahmad Suryani, 341203243 (2019) Makna Al-Ḍalālah Dalam Al-Qur’an. Skripsi thesis, UIN AR-RANIRY.

[img]
Preview
Text (Makna Al-Ḍalālah Dalam Al-Qur’an)
Ahmad Suryani, 341203243, FUF, IAT, 082272118877.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (6MB) | Preview

Abstract

Ada dua kelompok ayat dalam al-Qur’an yang memiliki kesenjangan dalam menisbahkan al-ḍalālah kepada Allah Swt. Ada kelompok ayat menisbahkan al-ḍalālah itu datangnya dari Allah Swt., (Seperti, Q.S. al-Zumar [39]: 23) bukan akibat langsung dari perbuatan hamba. Pada kelompok ayat lain menisbahkan al-ḍalālah datangnya dari seorang hamba bukan dari Allah Swt. (Seperti, Q.S. al-Baqarah [2]: 26). Peneliti akan mengkaji hal tersebut dari segi makna al-ḍalālah yang diungkapkan dalam al-Qur’an dengan tujuan untuk menjelaskan serta mendeskripsikan makna al-ḍalālah sebenarnya yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Qur’an al-Karīm.
Peneliti menggunakan metode Analisis Deskriptif dengan menggunakan pendekatan tafsir maudhū’i. Penelitian ini dapat digolongkan library research, dimana proses pengumpulan data dilakukan dengan mendokumentasikan literatur kepustakaan kemudian dilakukan analisa, serta didukung dengan penelitian sejumlah kitab-kitab tafsir yang relevan dengan masalah yang sedang diteliti.
Hasil penelitian diperoleh, bahwa al-Ḍalālah secara bahasa (etimologi) berasal dari bahasa Arab yaitu bentuk masdar dari akar kata “ḍalla-yaḍillu-ḍalālan-ḍalālatan” yang bermakna “kesesatan” atau lawan kata dari “hidāyatan” (petunjuk). Secara Istilah (terminologi) al-ḍalālah adalah penyimpangan dari ajaran Islam dan kufur terhadap Islam (al-inhirāf ’an al-islām wa kufr bihi). Penyimpangan dan pengingkaran dalam kegiatan ushul, bukan dalam kegiatan furu’. Kegiatan ushul adalah kegiatan yang berkaitan dengan akidah. Kata ḍalla dalam berbagai bentuknya tidak kurang dari 190 kali terulang dalam al-Qur’an. Untuk meniadakan kontradiksi makna dari dua kelompok ayat yang bertentangan, haruslah dipahami secara syar’i tidak hanya dipahami secara tekstual (mantūq). Dimana adanya kontradiksi ini menunjukkan, bahwa makna yang hendak diperlihatkan oleh kedua kelompok ayat adalah makna syar’i bukan makna tekstual (mantūq). Sehingga dapat disimpulkan, bahwa dalam memahami dua kelompok ayat al-ḍalālah tidak bisa hanya dipahami secara tekstual, akan tetapi harus dipahami dengan pendekatan syar’i, dengan melihat dari sudut pandang qarīnah yang terkandung dalam setiap ayat. Nisbah al-ḍalālah kepada Allah Swt. hanya sekedar nisbah penciptaan bukan nisbah secara langsung, sedangkan subyek langsung dari al-ḍalālah adalah manusia.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X1 Al-Qur'an dan ilmu yang berkaitan > 2X1.3 Tafsir Al-Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Ahmad Suryani
Date Deposited: 16 Sep 2020 02:19
Last Modified: 16 Sep 2020 02:19
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/14040

Actions (login required)

View Item View Item
TOP