Penafsiran Lafadz Fakir dan Miskin Menurut Mufasir

Fadilon, 160303073 (2021) Penafsiran Lafadz Fakir dan Miskin Menurut Mufasir. Skripsi thesis, UIN AR-RANIRY.

[img]
Preview
Text (Penafsiran Lafadz Fakir dan Miskin Menurut Mufasir)
Fadilon, 160303073, FUF, IAT, 082282617728.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (2MB) | Preview

Abstract

Fakir dan miskin merupakan dua kata yang sudah familiar di kalangan umat Islam dari sejak Rasulullah Saw hingga kini. Namun terjadi perbedaan pendapat para mufasir dan fuqaha dalam memaknai lafadz fakir dan miskin. Sebagian mufasir mengatakan miskin lebih sengsara hidupnya dari pada fakir dan sebagian yang lain mengatakan fakirlah yang lebih sengsara hidupnya dari pada miskin berdasarkan dalil masing-masing. Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengungkapan kata fakir dan miskin dalam al-Qur’an. Untuk menjelaskan secara rinci mengenai penafsiran makna Fakir dan miskin menurut para mufasir. Juga diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan serta dapat dijadikan sebagai bahan rujukan oleh peneliti selanjutnya dan bermanfaat bagi para pembaca. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui pendekatan metode maudhū’ī. Jenis penelitian penulis menggunakan penelitian studi kepustakaan (library research), yaitu dengan mengumpulkan data-data dan mengkaji bahan-bahan kepustakaan. Sumber data primer penelitian ini ialah kitab Tafsir al-Munir, Tafsir al-Maraghi, Jami’ li al-Ahkam al-Qur’an al-Qurṭubi, al-Nuur, Tafsir al-Ahkam dan Tafsir Jalalain, sumber data sekunder diperoleh dari kitab tafsir lainnya, buku-buku, jurnal dan karya tulis lainnya yang berkaitan dengan pembahasan. Hasil dari penelitian ini kata fakir terdapat 14 ayat dalam al-Qur’an dengan tiga macam bentuk yaitu disebutkan dalam bentuk maṣdar, ism fā’il, dan ṣifat musyabbahah dari ism fā’il. Kata miskin terdapat 23 ayat dalam al-Qur’an disebutkan dengan bentuk sighat mubalaghah atas wazan mif’il, dan bentuk ism jamak. Fakir termasuk kedalam makna wadh’i (kondisional) terdapat pada surah al-Haj: 28 dan diperkuat oleh al-Balad: 16. Sedang miskin termasuk kedalam makna ‘urfi (kebiasaan) terdapat pada surah al-Kahfi:79. Mana diantara keduanya yang lebih membutuhkan adalah orang fakir berdasarkan surah al-Taubah: 60. Dan jumhur ulama berpendapat bahwa fakirlah yang lebih membutuhkan baru kemudian yang lainnya.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing 1 : Dr. Abdul Wahid S.Ag., M.Ag. Pembimbing 2 : Syukran Abu Bakar Lc. M.A.
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X1 Al-Qur'an dan ilmu yang berkaitan > 2X1.3 Tafsir Al-Qur'an
Divisions: Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Depositing User: Fadilon Fadlon
Date Deposited: 03 Sep 2021 02:45
Last Modified: 03 Sep 2021 02:45
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/18022

Actions (login required)

View Item View Item
TOP