Jual Beli Mu’āṭāh (Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i)

Suci Nurul Hidayah, 220103005 (2025) Jual Beli Mu’āṭāh (Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i). Other thesis, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

[thumbnail of Jual Beli Mu’āṭāh (Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i)] Text (Jual Beli Mu’āṭāh (Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i))
Suci Nurul Hidayah, 220103005 (2025).pdf - Published Version
Restricted to Repository staff only
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (2MB) | Request a copy
[thumbnail of Jual Beli Mu’āṭāh (Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i)] Text (Jual Beli Mu’āṭāh (Studi Komparatif Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i))
Suci Nurul Hidayah, 220103005 (2025) cover sampai dengan hal 1.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (1MB) | Request a copy

Abstract

Ulama sepakat bahwa suatu transaksi jual beli dinyatakan sah apabila telah memenuhi syarat dan rukun yang ditetapkan. Salah satu rukun utama dalam jual beli adalah adanya akad (ijab dan qabul), sebagaimana dipahami dari firman Allah SWT dalam Q.S. An-nisa ayat 29. Namun, dalam praktiknya, akad tidak selalu dilakukan secara lisan atau eksplisit. Bentuk transaksi seperti ini dikenal dengan istilah jual beli mu’āṭāh, yaitu transaksi yang terjadi melalui tindakan saling memberi dan menerima barang atau uang tanpa adanya ucapan ijab dan qabul secara verbal (taʿāṭī). Perbedaan pendapat diantara para ulama kemudian muncul dalam memahami makna kerelaan (tarāḍin) yang disebutkan dalam ayat tersebut. Dalam penelitian ini dapat diangkat tiga pertanyaan yaitu, bagaimana pendapat Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i tentang hukum jual beli mu’āṭāh, apa dalil dan alasan yang digunakan Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i dalam menetapkan hukum jual beli mu’āṭāh, dan apa sebab terjadinya perbedaan pendapat antara Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan perbandingan dengan membandingkan pemikiran Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i dalam menetapkan hukum jual beli mu’āṭāh. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Mazhab Hanafi mengakui keabsahan jual beli mu’āṭāh, dengan berlandaskan pada Q.S. An-nisa ayat 29. Mazhab Hanafi memahami makna kata tijārah (perdagangan) dalam ayat tersebut sebagai perwujudan dari adanya kerelaan antara para pihak, pemahaman ini diperkuat oleh dalil dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 16 dan Q.S. At-Taubah ayat 111. Sedangkan, Mazhab Syafi’i tidak mengakui keabsahan jual beli mu’āṭāh, karena menurut mereka jual beli baru dianggap sah apabila akad dilakukan secara lafaz (ucapan) yang dimaknai dari kata tarāḍin, sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. An-nisa ayat 29.

Item Type: Thesis (Other)
Subjects: 300 Sociology and Anthropology (Sosiologi dan Antropologi) > 340 Law/Ilmu Hukum
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Perbandingan Mazhab
Depositing User: Suci Nurul Hidayah
Date Deposited: 20 Jan 2026 03:02
Last Modified: 20 Jan 2026 03:02
URI: http://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/52868

Actions (login required)

View Item
View Item