[error in script]
Download (6MB) | Request a copy
Download (5MB)
Abstract
Penelitian ini membahas perbedaan penafsiran ayat poligami antara Muḥammad ‘Abduh dan Sayyid Qutb. Muḥammad ‘Abduh menyatakan poligami diperbolehkan dengan syarat keadilan yang sangat sulit dicapai, sehingga hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat. Sebaliknya, Sayyid Qutb melihat poligami sebagai kelonggaran dari Allah yang diperbolehkan, tetapi dengan syarat adil; jika tidak bisa adil, lebih baik beristri satu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis komparatif dan pendekatan kualitatif untuk menganalisis persamaan dan perbedaan antara kedua penafsir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya meninjau realitas sosial dan menawarkan solusi masalah masyarakat, namun dasar hukum mereka berbeda. Muḥammad ‘Abduh berdasarkan kaidah fiqh “menghindari kerusakan diutamakan dari pada mendatangkan manfaat”, sementara Sayyid Qutb berdasarkan realitas sosial dan fitrah manusia. Muḥammad ‘Abduh membatasi poligami dalam situasi darurat saja, Abduh juga menambahkan bahwa poligami bisa menjadi haram jika ada keraguan dalam berlaku adil dan berlaku zalim terhadap istri. Sedangkan Sayyid Qutb memperbolehkan poligami dengan syarat keadilan, karna menganggap bahwa poligami merupakan sebuah rukhsah.
| Item Type: | Thesis (Other) |
|---|---|
| Subjects: | 200 Religion (Agama) > 2X0 Islam > 2X4 Fiqih > 2X4.3 Hukum Perkawinan (Munakahat) > 2X4.315 Poligami |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Rudianto Rudianto |
| Date Deposited: | 07 Feb 2025 02:10 |
| Last Modified: | 07 Feb 2025 02:10 |
| URI: | https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/43235 |
