Qhari Aina, 200303124 (2026) Makna Al-Taghyīr dan Derivasinya Dalam Al- Qur’an. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Qarri Aina, 200303124.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.
Download (1MB)
Abstract
Dalam Al-Qur'an, konsep mengenai perubahan disampaikan melalui berbagai macam bentuk lafaz salah satunya yaitu al-taghyir. Namun lafaz ini secara eksplisit tidak disebutkan langsung dalam Al-Qur’an akan tetapi melalui bentuk turunannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis derivasi dan makna dari lafaz at-taghyir dalam Al-Qur’an dan penafsiran mufassir klasik dan modern serta bentuk sinonim dari lafaz taghyīr. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode tafsir muqaran dan pendekatan kebahasaan. Ayat-ayat yang berkenaan dengan at-taghyir dianalisa secara semantik dan leksikal untuk menelusuri makna dari kata ghayyara turunannya. Kemudian membandingkan pendapat ulama tafsir klasik dan modern yaitu antara tafsir At-Thabari, Al-Misbah dan Al-Munir dalam menafsirkan ayat-ayat terkait Al-Taghyīr. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep Al-Taghyīr (perubahan) dalam bahasa secara morfologis berasal dari akar kata ghayyara muncul 4 kali dalam Al-Qur’an dengan berbagai bentuk, seperti yughayyiru (mengubah) dan yataghayyar (berubah). Secara semantik, Taghyīr menitikberatkan pada proses perubahan. Dari sisi tafsir, ayat-ayat Al-Taghyīr dalam surat Al-Anfāl dan Ar-Ra‘d menunjukkan bahwa perubahan dalam kehidupan manusia sangat berkaitan dengan sikap batin dan perbuatan mereka. Wahbah az-Zuhaili, M. Quraish Shihab, dan Ibn Jarir al-Tabari sepakat bahwa Allah tidak mengubah nikmat, keadaan, atau nasib suatu kaum kecuali setelah mereka sendiri mengubah apa yang ada dalam diri mereka, baik berupa keimanan, akhlak, maupun perilaku sosial. Dalam An-Nisā’ perubahan dikaitkan dengan tipu daya setan yang mendorong manusia mengubah fitrah dan ciptaan Allah secara negatif. Berbeda dengan surat Muhammad yang menunjukkan makna kebalikannya yakni ketiadaan perubahan pada kenikmatan surga, di mana sungai-sungai air, susu, khamar, dan madu digambarkan tidak berubah sedikit pun. Sinonim at-taghyir dalam Al-Qur’an adalah tabdīl dan taḥwīl. Tabdīl merujuk pada penggantian total suatu keadaan atau esensi dan umumnya merupakan otoritas Allah, sedangkan taḥwīl berarti pengalihan atau perpindahan tanpa menghilangkan esensi, seperti peralihan arah kiblat. Dengan demikian, Al-Qur’an menghadirkan spektrum makna perubahan yang luas: dari modifikasi (taghyīr), penggantian total (tabdīl), hingga pengalihan (taḥwīl), yang masing-masing memiliki fungsi teologis dan sosial yang khas.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Subjects: | 200 Religion (Agama) > 2X0 Islam > 2X1 Al-Qur'an dan ilmu yang berkaitan > 2X1.3 Tafsir Al-Qur'an |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin dan Filsafat > S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir |
| Depositing User: | Qhari Aina |
| Date Deposited: | 21 May 2026 07:44 |
| Last Modified: | 21 May 2026 07:44 |
| URI: | https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/56976 |
