Identitas Aceh Dalam Imajinasi Masyarakat Simeulue Di Banda Aceh

Arnila, 220801047 (2026) Identitas Aceh Dalam Imajinasi Masyarakat Simeulue Di Banda Aceh. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

[thumbnail of Identitas Aceh, Komunitas Terbayang, Masyarakat Simeulue, Negosiasi Identitas, Pasca Mou Helsinki] Text (Identitas Aceh, Komunitas Terbayang, Masyarakat Simeulue, Negosiasi Identitas, Pasca Mou Helsinki)
organized (23)_watermark_watermark.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (2MB)

Abstract

Masyarakat Simeulue di Banda Aceh hidup di persimpangan dua lapis identitas: identitas lokal yang mereka bawa dari kampung halaman, dan narasi ke-Aceh-an yang sedang direkonstruksi pasca MoU Helsinki 2005. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana masyarakat Simeulue memaknai dan menempatkan diri dalam narasi identitas Aceh tersebut. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum adanya kajian yang secara khusus menelusuri pengalaman kelompok etnis kepulauan seperti Simeulue dalam narasi ke-Aceh-an yang sedang dibangun ulang pasca perdamaian. Rumusan masalahnya adalah bagaimana masyarakat Simeulue di Banda Aceh memaknai dan menempatkan diri dalam narasi identitas Aceh pasca MoU Helsinki? Teori yang digunakan adalah komunitas terbayangkan (imagined communities) Benedict Anderson, yang menjelaskan bahwa komunitas terbentuk melalui imajinasi kolektif yang dibangun bersama melalui narasi, simbol, dan pengalaman yang dibagi bersama. Pendekatan penelitian bersifat kualitatif deskriptif-interpretatif dengan wawancara mendalam yang dianalisis menggunakan analisis tematik induktif Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Simeulue membangun rasa ke-Aceh-an melalui kesamaan nilai keislaman, adat, dan sejarah kolektif bukan melalui keseragaman bahasa atau simbol budaya. Mereka mengakui diri sebagai bagian dari Aceh, namun merasakan jarak simbolik karena narasi yang dominan belum sepenuhnya menyertakan pengalaman mereka. Dalam keseharian, identitas dinegosiasikan secara aktif melalui adaptasi di ruang publik dan pemeliharaan bahasa serta tradisi Simeulue di ruang komunal. Kesimpulannya, identitas Aceh bersifat majemuk dan terus dinegosiasikan, dan penelitian ini memperluas konsep komunitas terbayangkan Anderson ke dalam konteks identitas intra-daerah pascakonflik.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Subjects: 300 Sociology and Anthropology (Sosiologi dan Antropologi) > 306 Kebudayaan dan Pranata
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan > S1 Ilmu Politik
Depositing User: Arnila Arnila
Date Deposited: 30 Jun 2026 08:03
Last Modified: 30 Jun 2026 08:03
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/58155

Actions (login required)

View Item
View Item