Perlindungan Hukum Korban Anak dalam Penyebaran Konten Incest di Facebook Perspektif Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Qanun Jinayah

Elis Mariyana, 220104130 (2026) Perlindungan Hukum Korban Anak dalam Penyebaran Konten Incest di Facebook Perspektif Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Qanun Jinayah. Skripsi thesis, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

[thumbnail of Perlindungan Hukum Korban Anak Dalam Penyebaran Konten Incest Di Facebook Perspektif Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik Dan Qanun Jinayah] Text (Perlindungan Hukum Korban Anak Dalam Penyebaran Konten Incest Di Facebook Perspektif Undang-Undang Informasi Dan Transaksi Elektronik Dan Qanun Jinayah)
SKRIPSI.pdf - Published Version
Available under License Creative Commons Attribution.

Download (2MB)

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan media sosial membuka ruang penyalahgunaan untuk menyebarkan konten asusila, termasuk incest yang melibatkan anak. Kasus “Fantasi Sedarah” di Facebook dilakukan melalui pembentukan grup, perekaman, dan penyebaran konten incest, yang berpotensi menimbulkan trauma, stigma, dan reviktimisasi terhadap korban. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan tindak pidana, perlindungan hukum korban, serta penerapan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan Qanun Jinayah terhadap kasus tersebut. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan analisis fakta hukum berdasarkan pemberitaan, tanpa mengkaji putusan pengadilan karena perkara belum berkekuatan hukum tetap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan penyebaran konten incest dalam UU ITE dan Qanun Jinayah masih bersifat implisit. UU ITE memiliki cakupan lebih luas dalam menjangkau penyebaran konten elektronik dan perlindungan anak, sedangkan Qanun Jinayah mengatur incest melalui ketentuan pemerkosaan terhadap mahram, tetapi belum mengatur penyebaran konten incest secara elektronik. Perlindungan korban lebih optimal melalui UU ITE dan peraturan terkait, terutama pemutusan akses, penghapusan konten, restitusi, kompensasi, dan pemulihan, sedangkan Qanun Jinayah lebih berorientasi pada pemidanaan pelaku. Penerapan terhadap fakta hukum menunjukkan UU ITE memiliki jangkauan lebih luas, sedangkan Qanun Jinayah terbatas oleh unsur pembuktian dan locus delicti. Dengan demikian, perlindungan korban perlu diperkuat melalui pendekatan berorientasi korban dan harmonisasi hukum nasional dengan Qanun Jinayah.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Keywords (Kata Kunci): Perlindungan Hukum, Penyebaran Konten, Incest, Anak, UU ITE dan Qanun Jinayah
Subjects: 300 Sociology and Anthropology (Sosiologi dan Antropologi) > 340 Law/Ilmu Hukum > 344 Hukum Pemburuhan, Pelayanan Sosial, Pendidikan, Kebudayaan
Divisions: Fakultas Syariah dan Hukum > S1 Hukum Pidana Islam
Depositing User: Elis Mariyana
Date Deposited: 26 Aug 2026 02:10
Last Modified: 26 Aug 2026 02:10
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/59617

Actions (login required)

View Item
View Item